Islamic Study Community – VEDC Malang


Ukhuwah Begitu Indah

Posted in Muhasabah oleh Ukhti Soleha pada 28 Januari 2009

Ada SMS masuk, “Tolong yang punya golongan darah A
segara datang ke PMI, ada saudara kita yang sangat
membutuhkan”. Tanganku agak bergetar menerima SMS itu
membayangkan orang yang sedang membutuhkan darah,
tetapi golongan darah saya O bukan A.

Lantas, tanpa berpikir panjang, saya telpon beberapa
teman. Teman pertama, golongan darahnya tak cocok.
Kemudian saya telpon teman satu lagi, tak cocok juga,
tapi dia merekomendasikan teman lainnya. Syukurlah
cocok, dalam hati saya bergumam, alhamdulillah,
akhirnya ketemu juga orang yang punya golongan darah A
dan mau mendonorkannya. Hati saya berangsur tenang.

Di PMI, ternyata sudah menunggu beberapa orang, lebih
dari sepuluh orang yang siap mendonorkan darahnya.
Sebenarnya lima orang saja sudah cukup, tapi yang
datang lebih banyak dari yang dibutuhkan. Semua itu
berkat SMS yang beredar cukup banyak dan tertuju pada
banyak orang pula. Awalnya, satu orang yang mengirim,
berikutnya, yang menerima memforward SMS itu dan
berlangsung secara zig zag sehingga ada beberapa orang
yang menerima sampai dua kali.

Inilah wujud ukhuwah…
Ukhuwah yang begitu indah….

Sebuah kenangan manis tersendiri yang diperlihatkan
oleh para kader dakwah. Di kampus, mereka bermarkas di
unit-unit kerohanian Islam dan masjid kampus,
sementara di masyarakat mereka bergerak pada wilayah
garap profesinya masing-masing dan di sebuah partai
Islam yang juga dikenal sebagai partai dakwah.
Peristiwa ini hanyalah secuil kisah bagaimana ikatan
persaudaraan sesama muslim, ikatan saling membantu dan
meringankan beban orang lain tak hanya sekedar isapan
jempol belaka, tapi benar-benar terwujudkan dalam
kehidupan nyata.

Persaudaraan (ukhuwah) Islam tak terbatas ikatan
biologis semata. Tetapi karena ikatan iman. Ikatan
bahwa kita sesama muslim, kita adalah saudara. Ketika
ada anggota tubuh yang sakit, semua ikut merasakannya.
Inilah pengibaratan yang persaudaraan kita. Ketika ada
di antara kita yang membutuhkan pertolongan, kita
dengan senang hati, dengan rasa tulus membantu mereka
yang membutuhkan.

Bukan atas dasar ingin dapat pujian, ingin dapat imbal
jasa. Bukan, bukan karena itu. Tetapi, ini adalah
perwujudkan cinta kasih kita terhadap sesama muslim,
kita melakukan hal ini karena landasan iman. Seperti
gambaran dalam sebuah hadist “Tidaklah beriman salah
seorang di antara kalian, hingga ia mencintai
saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”
(HR Bukhori). Jadi, alangkah malunya kita ketika
membanggakan diri sebagai orang beriman tapi tak
peduli terhadap sesama.

Kini, kita saksikan berbagai penderitaan dan
kemiskinan melanda bangsa kita, rakyat Indonesia.
Kisah-kisah memilukan, menyayat hati sering kita
dengar, kita baca dan kita lihat di media. Ketika
berbicara rakyat Indonesia, yang terbayang adalah
sejumlah besar penduduk yang muslim. Menghadapi
kenyataan ini tak ada kata yang tepat bagi kita selain
kepedulian. Pertanyaannya, bukan bisa atau tidak bisa
kita mengakhiri kisah sedih rakyat Indonesia, tapi
kita mau atau tidak mau melakukannya. Berbekal
kemauaan, insyallah jalan akan terbuka lebar sehingga
pelan tapi pasti kita kelak kita akan menyaksikan
penduduk negeri ini makmur, bisa hidup layak dan penuh
sentuhan religiusitas.

Sebagai penggugah jiwa, renungkanlah kata-kata ini.
Ada sebuah kata-kata bijak yang bisa mengingatkan
kita;

“Siapa diri kita sesungguhnya dapat dilihat dari apa
yang kita perbuat Bukan dari harta yang kita miliki”

Atau perkataan Sayyid Qutb, seorang pemikir dan
aktivis Islam dari Mesir;

“Orang yang hanya memikirkan diri sendiri, akan hidup
sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil.
Tetapi orang yang mau memikirkan orang lain, ia akan
menjadi orang besar dan mati sebagai orang besar”.
Begitulah kawan, kita semestinya bersikap.

Sebagai penutup, izinkan saya berterima kasih kepada
seorang kawan. Semoga Allah SWT membalasnya dengan
kebaikan. Suatu ketika, saya sedang kehabisan uang.
Perut lapar karena belum terisi apapun. Disaat lapar
inilah datang seorang kawan dengan muka penuh
senyuman, “Bro, udah makan belum, ane traktir yuk”.
Saat itu, rasa trenyuh tak terbedung lagi, sementara
tak terasa air mata menetes penuh syukur.
Nah sudahkah kita berbagi dengan saudara – saudari kita sesama muslim? Atau selama ini kita tak merasa trenyuh melihat penderitaan mereka.

SIAPA DIRI KITA SESUNGGUHNYA DAPAT DI LIHAT DARI APA YANG KITA PERBUAT , BUKAN DARI HARTA YANG KITA MILIKI ATAUPUN DARI JABATAN YANG KITA SANDANG !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: