Islamic Study Community – VEDC Malang


FSLDK Nasional IX – Bandung

Posted in Pertemuan FSLDK Nasional oleh Ukhti Soleha pada 1 Februari 2009

FSLDK Nasional IX – Bandung

FSLDKN IX dilaksanakan di Unisba Bandung pada tanggal 15 – 22 Oktober 1995. Dalam perkembangannya, khittah dan mafahim LDK justru menimbulkan konflik di tubuh FSLDK. Pada setiap pertemuan FSLDK selalu saja permasalahan mafahim (buku pedoman kefahaman yang terdiri dari kefahaman aqidah, kefahaman dakwah, dan kefahaman syariah) dan khittah (semacam AD/ART) menjadi permasalahan yang selalu diperdebatkan. Yang menjadi masalah adalah karena sebagian LDK mempersoalkan mengenai mekanisme penyusunan mafahim dan khittah yang dianggap tidak merepresentasikan aspirasi keseluruhan LDK, serta adanya anggapan bahwa isi mafahim merupakan sebuah upaya untuk memaksakan persepsi suatu kelompok tertentu kepada seluruh LDK di Indonesia.

Seringnya terjadi deadlock pada pembahasan-pembahasan ke-LDK-an dan permasalahan-permasalahan keumatan menjadikan timbulnya suara-suara yang menghendaki dicabutnya mafahim dan khittah.

Pada FSLDKN IX ini perdebatan mengenai pro dan kontra terhadap pencabutan mafahim dan khittah mencapai puncaknya, suasana sidang hampir tak bisa dikendalikan. Ada beberapa usulan untuk menghapus mafahim dan khittah, dengan alasan bahwasanya kondisi tiap LDK berbeda. Sehingga ketetapan-ketetapan yang ada di mafahim dan khittah sulit untuk dilaksanakan pada setiap LDK. Dalam situasi yang tidak terkendali itulah akhirnya dikumpulkan tokoh-tokoh tua LDK untuk menyelesaikan masalah tersebut. Akhirnya dengan lobi yang panjang dan melelahkan, menyadari bahwa penyeragaman terhadap mafahim dan khittah sulit dipertahankan, dengan penuh kesadaran untuk senantiasa menjaga keutuhan ummat diambillah keputusan bahwa mafahim dan khittah dihapuskan.

Keputusan inilah yang sering disebut sebagai Piagam Unisba. Dengan diberlakukannya piagam Unisba praktis FSLDKN hanyalah sebuah kesepakatan-kesepakatan yang tidak mengikat. FSLDKN akhirnya menjadi sebuah Forum Komunikasi sesuai namanya yang di sana menjadi tempat akomodasi dan saling menghormati antar keberagaman yang ada. Dan di sana pula masing-masing LDK saling belajar dari LDK lain tanpa harus diseragamkan. Memang, dengan adanya latar belakang dan karakteristik yang berbeda-beda menjadikan LDK-LDK harus mengakui, bahwa memang sulit membuat penyeragaman. Dan akhirnya istilah yang tepat adalah koordinasi, komunikasi, saling belajar, dan melengkapi.

Sejumlah kesepakatan lain yang dihasilkan di antaranya mempertegas keputusan FSLDK Semarang, yakni tentang upaya mengangkat Citra LDK, dengan cara mengangkat masalah-masalah umat misalnya tentang lokalisasi WTS, Perjudian, Pornografi, SKS kuliah Agama Di PT, Pesantren mahasiswa. Pada FSLDK ini ditetapkan pula bahwa Puskompus diganti sebutannya dengan Puskomnas (Pusat Komunikasi Nasional), kegiatan koordinasi hanya sampai tingkat Wilayah, tidak nasional, lalu di tiap FSLDK tidak ada sidang-sidang. Gantinya adalah forum-forum untuk membicarakan berbagai persoalan keumatan yang di tangkap di wilayah atau daerah. Jamaah Shalahuddin UGM terpilih sebagai Puskomnas FSLDKN dan UNLAM sebagai tuan rumah.

http://fsldkn.org/pertemuan-fsldk-nasional/page-8.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: